A. Definisi Ilmu
Secara bahasa, ilmu adalah kebalikan dari kebodohan (al-jahl). Perkataan “Saya mengetahui sesuatu” ('alimtu al-syai' a'lamuhu 'ilman): artinya saya mengenalinya.
Adapun secara istilah, ilmu memiliki banyak definisi, di antaranya:
- Ilmu adalah sekumpulan pengetahuan yang tersusun dalam suatu sistem, sedemikian rupa sehingga fakta-fakta dan kaidah-kaidah tersebut saling terkait melalui hubungan-hubungan yang terukur, dan disyaratkan agar sebagiannya meniscayakan keberadaan sebagian yang lain.
- Ilmu adalah pemahaman secara mutlak, yakni memahami sesuatu sesuai dengan hakikatnya, baik berupa konsepsi (tashawwur) maupun pembenaran (tashdiq), baik bersifat pasti (yaqin) maupun tidak pasti.
- Ilmu adalah pengantar menuju akal sekaligus sarana untuk mencapainya, sebagaimana firman Allah Ta'ala:
﴿وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ﴾
"Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tiada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu." (QS. Al-'Ankabut: 43)
- Ilmu adalah tercetaknya gambaran sesuatu di dalam benak pikiran. Ilmu juga sering diungkapkan sebagai cahaya, sebagaimana firman Allah Ta'ala:
﴿وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ﴾
"Dan barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun." (QS. An-Nur: 40)
Dan disebutkan dalam sebuah hadis mulia:«العِلْمُ نُورٌ يَقْذِفُهُ اللَّهُ فِي قَلْبِ مَنْ يَشَاءُ»
"Ilmu adalah cahaya yang Allah lemparkan ke dalam hati siapa saja yang Dia kehendaki."
B. Keutamaan Ilmu dan Orang yang Berilmu
Terdapat berbagai dalil yang menjelaskan keutamaan ilmu dan para ahli ilmu di dalam al-Qur'an, as-Sunnah, serta perkataan para salaf.
1. Dalil dari Al-Qur'an
- Allah memerintahkan untuk merujuk kepada para ahli ilmu, ini menunjukkan tingginya kedudukan ulama serta menjelaskan urgensi ilmu dalam mewujudkan hidayah dan menghilangkan kebodohan.
﴿وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًا نُوحِي إِلَيْهِمْ فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ﴾
"Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui." (QS. An-Nahl: 43)
- Allah Ta'ala memerintahkan Nabi-Nya, Muhammad ﷺ, untuk berdoa memohon tambahan ilmu, hal ini membuktikan keagungan ilmu di dalam Islam.
﴿فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ وَلَا تَعْجَلْ بِالْقُرْآنِ مِنْ قَبْلِ أَنْ يُقْضَى إِلَيْكَ وَحْيُهُ وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا﴾
"Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al-Qur'an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: 'Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.'" (QS. Thaha: 114)
﴿هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ﴾
"Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya dan ditetapkan-Nya manzilah-manzilah (tempat-tempat) bagi perjalanan bulan itu, supaya kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak. Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) kepada orang-orang yang mengetahui." (QS. Yunus: 5)
- Permintaan Musa kepada seorang yang alim agar mengajarkannya ilmu yang bermanfaat.
﴿قَالَ لَهُ مُوسَى هَلْ أَتَّبِعُكَ عَلَى أَنْ تُعَلِّمَنِ مِمَّا عُلِّمْتَ رُشْدًا﴾
"Musa berkata kepadanya: 'Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?'" (QS. Al-Kahfi: 66)
- Keutamaan orang-orang mukmin yang berilmu di atas banyak hamba-hamba-Nya.
﴿وَلَقَدْ آتَيْنَا دَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ عِلْمًا وَقَالَا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي فَضَّلَنَا عَلَى كَثِيرٍ مِنْ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِينَ﴾
"Dan sesungguhnya Kami telah memberi ilmu kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: 'Segala puji bagi Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hambanya yang beriman'." (QS. An-Naml: 15)
- Allah menjelaskan bahwa para ulama adalah manusia yang paling takut kepada-Nya.
﴿إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ﴾
"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun." (QS. Fathir: 28)
- Bahwasanya Allah mengutamakan ilmu dan pemiliknya, serta mengangkat derajat ahli ilmu di atas yang lainnya.
﴿أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ﴾
"(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: 'Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?' Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran." (QS. Az-Zumar: 9)
- Allah Ta'ala menjadikan para nabi sebagai manusia yang paling berilmu, dan penutup serta yang terbaik di antara mereka adalah nabi kita, Muhammad ﷺ.
﴿هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ﴾
"Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata." (QS. Al-Jumu'ah: 2)
- Bahwa ilmu merupakan sebab terangkatnya derajat pemiliknya.
﴿يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ﴾
"Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Mujadilah: 11)
- Bahwa seruan paling awal dalam Islam adalah seruan kepada ilmu; saat itu Allah Ta'ala menurunkan wahyu kepada Rasulullah ﷺ:
﴿اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ *خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ *اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ *الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ *عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ﴾
"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya." (QS. Al-'Alaq: 1-5)
2. Dalil dari As-Sunnah
- Ilmu akan tetap bertahan dan abadi. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِذَا مَاتَ الْإِنْسANY انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ:إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ»
"Jika seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak salih yang mendoakannya." (HR. Muslim)
- Kewajiban menuntut ilmu atas setiap muslim. Dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
«طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ»
"Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim." (HR. Ibn Majah)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:«أَلَا إِنَّ الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ، مَلْعُونٌ مَا فِيهَا، إِلَّا ذِكْرُ اللَّهِ، وَمَا وَالَاهُ، وَعَالِمٌ أَوْ مُتَعَلِّمٌ»
"Ketahuilah, sesungguhnya dunia itu terlaknat, terlaknat pula apa yang ada di dalamnya, kecuali zikir kepada Allah dan apa yang menyerupainya, serta orang yang berilmu atau orang yang belajar." (HR. al-Tirmidzi)
Dari Ibn Syihab, ia berkata: Humaid bin 'Abd al-Rahman berkata: Aku mendengar Mu'awiyah radhiyallahu 'anhu berkata saat berkhotbah: Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda:«مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ، وَإِنَّمَا أَنَا قَاسِمٌ وَاللَّهُ يُعْطِي، وَلَنْ تَزَالَ هَذِهِ الْأُمَّةُ قَائِمَةً عَلَى أَمْرِ اللَّهِ، لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ»
"Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Allah akan memahamkannya dalam urusan agama. Sesungguhnya aku hanyalah yang membagikan, sedangkan Allah yang memberi. Umat ini akan senantiasa tegak di atas perintah Allah, tidak akan membahayakan mereka orang-orang yang menyelisihi mereka hingga datangnya ketetapan Allah." (HR. al-Bukhari)
Dari Hudzaifah bin al-Yaman radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda kepadaku:«فَضْلُ الْعِلْمِ خَيْرٌ مِنْ فَضْلِ الْعِبَادَةِ، وَخَيْرُ دِينِكُمُ الْوَرَعُ»
"Keutamaan ilmu lebih baik daripada keutamaan ibadah, dan sebaik-baik agama kalian adalah wara' (menjaga diri dari perkara syubhat)." (Dikeluarkan oleh al-Hakim, dan lafaz ini miliknya)
Dari Muhammad bin Jubair bin Muth'im, dari ayahnya radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ berdiri di al-Khaif di Mina lalu bersabda:«نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مِنَّا حَدِيثًا فَحَفِظَهُ حَتَّى يُبَلِّغَهُ غَيْرَهُ؛ فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ، وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ لَيْسَ بِفَقِيهٍ»
"Semoga Allah mencerahkan wajah seseorang yang mendengar suatu hadis dari kami, lalu ia menghafalnya hingga menyampaikannya kepada orang lain; sebab betapa banyak pembawa pemahaman agama (fiqh) yang menyampaikannya kepada orang yang lebih mendalam pemahamannya, dan betapa banyak pembawa pemahaman agama yang nyatanya bukanlah seorang ahli fiqh." (HR. Abu Dawud)
- Perhatian terhadap al-Qur'an, baik dalam proses pembelajaran maupun pengajaran. Dari 'Utsman bin 'Affan radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
«خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ»
"Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari al-Qur'an dan mengajarkannya." (HR. al-Bukhari)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:«مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا، لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ»
"Barangsiapa mempelajari suatu ilmu yang semestinya dicari demi mengharap wajah Allah 'Azza wa Jalla, namun ia tidak mempelajarinya melainkan semata-mata untuk mendapatkan secuil kenikmatan dunia, niscaya ia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat." (HR. Abu Dawud)
Dari Abu Barzah al-Aslami radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:«لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمْرِهِ؛ فِيمَ أَفْنَاهُ؟ وَعَنْ عِلْمِهِ؛ فِيمَ فَعَلَ؟ وَعَنْ مَالِهِ؛ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ؟ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ؟ وَعَنْ جِسْمِهِ؛ فِيمَ أَبْلَاهُ؟»
"Kedua kaki seorang hamba tidak akan beranjak pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya; untuk apa ia habiskan? Tentang ilmunya; apa yang telah ia amalkan? Tentang hartanya; dari mana ia dapatkan dan untuk apa ia belanjakan? Serta tentang tubuhnya; untuk apa ia pergunakan?" (HR. al-Tirmidzi)
3. Perkataan Para Salaf
- Kesinambungan ketenangan, kewibawaan, kekhusyukan, sikap rendah hati kepada Allah, dan ketundukan. Di antara yang ditulis oleh Malik kepada al-Rasyid:
إذا علمت علمًا فَلْيُرَ عليك علمه وسكينته وسمته ووقاره وحلمه
"Jika engkau telah mempelajari suatu ilmu, maka hendaknya tampak pada dirimu ilmu tersebut, ketenangannya, karakternya yang luhur, kewibawaannya, serta kesantunannya."
Hal ini didasarkan pada sabda Nabi ﷺ: "Ulama adalah pewaris para nabi." 'Umar radhiyallahu 'anhu berkata:تعلموا العلم وتعلموا له السكينة والوقار
"Pelajarilah ilmu, dan pelajarilah pula ketenangan serta kewibawaan demi ilmu tersebut."
Diriwayatkan dari kaum salaf:حق على العالم أن يتواضع لله في سِرِّه وعلانيته ويحترس من نفسه ويقف على ما أشهر عليه
"Adalah sebuah kewajiban bagi seorang alim untuk merendahkan diri kepada Allah, baik tatkala tersembunyi maupun terang-terangan, serta senantiasa mewaspadai hawa nafsunya dan teguh memegang amanah yang dipikulkan kepadanya."
'Ali radhiyallahu 'anhu berkata:كفى بالعلم شرفًا أن يدعيه من لا يحسنه، ويفرح به إذا نسب إليه، وكفى بالجهل ذمًا أن يتبرأ منه من هو فيه.
"Cukuplah menjadi suatu kemuliaan bagi ilmu manakala ia diklaim oleh orang yang sebenarnya tidak menguasainya, dan ia merasa bangga bila ilmu tersebut dinisbatkan kepadanya. Dan cukuplah menjadi suatu keburukan bagi kebodohan manakala orang yang terjerumus di dalamnya justru berusaha melepaskan diri darinya."
Sebagian kaum salaf berkata:خير المواهب العقل وشر المصائب الجهل
"Sebaik-baik anugerah adalah akal, dan seburuk-buruk musibah adalah kebodohan."
Abu Muslim al-Khaulani berkata:العلماء في الأرض مثل النجوم في السماء إذا بدت للناس اهتدوا بها وإذا خفيت عليهم تحيروا.
"Ulama di muka bumi ibarat bintang-gemintang di langit; jika ia menampakkan diri kepada manusia, niscaya mereka akan mendapat petunjuk darinya, namun apabila ia bersembunyi dari mereka, niscaya mereka akan kebingungan."
Abu al-Aswad al-Du'ali berkata:ليس شيء أعز من العلم، الملوك حكام على الناس، والعلماء حكام على الملوك.
"Tidak ada sesuatu pun yang lebih mulia daripada ilmu. Para raja adalah penguasa atas manusia, sedangkan para ulama adalah penguasa atas para raja."
Diriwayatkan dari Mu'adz radhiyallahu 'anhu:تعلموا العلم فإن تعلمه حسنة وطلبه عبادة ومذاكرته تسبيح والبحث عنه جهاد وبذله قربة وتعليمه من لا يعلمه صدقة.
"Pelajarilah ilmu; sesungguhnya mempelajarinya merupakan wujud kebaikan, menuntutnya adalah ibadah, mendiskusikannya adalah tasbih, mencarinya adalah jihad, mengerahkan daya untuknya adalah qurbah (pendekatan diri kepada Allah), dan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah."
Al-Syafi'i radhiyallahu 'anhu berkata:إن لم يكن الفقهاء العاملون أولياء الله فليس لله ولي.
"Jika para ahli fiqh yang senantiasa mengamalkan ilmunya bukanlah wali-wali Allah, maka Allah tidak memiliki wali lagi."
C. Tingkatan-tingkatan Ilmu
Rasulullah ﷺ bersabda:
«أَوَّلُ الْعِلْمِ الصَّمْتُ، وَالثَّانِي الِاسْتِمَاعُ، وَالثَّالِثُ الْعَمَلُ بِهِ، وَالرَّابِعُ نَشْرُهُ»
"Awal mula dari ilmu adalah diam, yang kedua mendengarkan, yang ketiga mengamalkannya, dan yang keempat menyebarkannya."
Hadis mulia ini menjelaskan kepada kita tingkatan-tingkatan ilmu, yaitu:
- Diam: Yaitu tenang dan fokus, dengan mengarahkan pendengaran kepada sang guru dengan niat menyimak perkataannya serta memahaminya. Di sini terdapat isyarat mengenai salah satu sebab teraihnya ilmu. Seorang penuntut ilmu mesti bersikap diam ketika gurunya sedang menyampaikan materi (talqin), serta menyimak perkataannya hingga gambaran keilmuan tersebut terukir kokoh di dalam benaknya. Setelah itu, barulah ia akan mampu menghafal penuturan tersebut serta menguasainya (dhabth). Al-Bukhari (w. 256 H) telah meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Zur'ah dari Jarir, bahwa Nabi ﷺ bersabda pada saat momentum Haji Wada':
«اسْتَنْصِتِ النَّاسَ»
"Mintalah orang-orang untuk diam menyimak." (Shahih al-Bukhari).
- Mendengarkan: Yakni mendengarkan paparan ilmu dan memusatkan pendengaran secara maksimal kepada sang guru, untuk menyimak penjelasannya dan memahaminya. Dengan diam dan mendengarkan, seorang penuntut ilmu akan mampu memahami penjelasan sang guru untuk kemudian menghafalnya. Hafalan sendiri telah didefinisikan sebagai: "Menguasai gambaran suatu hal yang diketahui sedemikian rupa sehingga ia tidak lagi tersentuh oleh perubahan maupun kehilangannya." (Tafsir al-Mizan). Yakni menjaga dan menguasai ilmu. Hal ini mengisyaratkan suatu kaidah terkait sebab bertahannya ilmu tersebut, dan ia adalah sebuah keniscayaan, karena pemusatan perhatian serta kegiatan menyimak tidak akan mendatangkan manfaat tanpanya. Imam al-Shadiq 'alaihi al-salam berkata:
اكتبوا فأنكم لا تحفظون حتى تكتبوا
"Tulislah, karena sungguh kalian tidak akan hafal hingga kalian menuliskannya."
- Mengamalkan ilmu tersebut: Yakni kewajiban mengaitkan antara keilmuan dengan amal perbuatan, terutama jika ilmu tersebut memang berkaitan dengan ranah amaliyah; adapun tujuan dari pengamalan tersebut tak lain adalah demi mendekatkan diri kepada Allah Ta'ala. Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa sistem pengajaran yang menggunakan metode praktek, atau dengan tujuan penerapan secara nyata, akan jauh lebih membekas pada diri seseorang, serta lebih kokoh berada dalam dalam hati maupun dalam ingatan. Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّ الْعَالِمَ إِذَا لَمْ يَعْمَلْ عِلْمَهُ زَلَّتْ مَوْعِظَتُهُ عَنِ الْقُلُوبِ كَمَا يَزِلُّ الْمَطَرُ عَنِ الصَّفَا»
"Sesungguhnya seorang alim, jika ia tidak mengamalkan ilmunya, niscaya nasihat-nasihatnya akan tergelincir dari hati-hati (manusia) layaknya air hujan yang tergelincir dari batu yang licin."
Beliau 'alaihi al-shalatu wa al-salam juga bersabda:«تَعَلَّمُوا مَا شِئْتُمْ إِنْ شِئْتُمْ أَنْ تَعْمَلُوا، فَلَنْ يَنْفَعَكُمُ اللَّهُ بِالْعِلْمِ حَتَّى تَعْمَلُوا»
"Pelajarilah apa pun yang kalian inginkan, jika kalian memang berniat untuk mengamalkannya; karena Allah sama sekali tidak akan memberikan kalian manfaat melalui ilmu tersebut hingga kalian mengamalkannya."
Dan diriwayatkan pula dari beliau ﷺ:«كُونُوا لِلْعِلْمِ دُعَاةً وَلَا تَكُونُوا لَهُ رُوَاةً»
"Jadilah kalian sebagai para penyeru ilmu, dan janganlah sekadar menjadi para perawinya."
Riwayat-riwayat ini beserta dalil lainnya senantiasa menjadi peringatan keras bagi para ahli ilmu agar konsisten mengiringi keilmuan mereka dengan amal perbuatan. Jika tidak demikian, maka tidak ada lagi secercah manfaat dari seluruh ilmu yang mereka bawa. Seorang pendidik haruslah jujur terhadap nilai-nilai yang ia serukan; dan tolak ukur kejujuran tersebut adalah tatkala ia menerapkannya pada dirinya sendiri terlebih dahulu. Apabila amalnya selaras dengan keilmuannya, niscaya para penuntut ilmu akan senantiasa mengikutinya serta meneladaninya, baik dalam setiap ucapan maupun perbuatannya. Sungguh, Allah telah menegur orang-orang mukmin atas ketidakjujuran mereka terhadap apa yang sering mereka ucapkan, melalui firman-Nya:﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ * كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ﴾
"Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (QS. Ash-Shaff: 2-3).
Berkaitan dengan hal ini, al-Khathib al-Baghdadi (w. 463 H) menegaskan: "Tidaklah dianggap sebagai seorang yang alim barangsiapa yang sama sekali tidak beramal dengan ilmunya. Dikatakan pula bahwa ilmu adalah sang ayah, sementara amal adalah sang anak. Maka, janganlah engkau merasa tenang dengan amal perbuatan selagi engkau masih diselimuti keterasingan dari ilmu; dan janganlah pula engkau merasa tenang dengan seonggok ilmu selagi engkau masih meremehkan amal perbuatan; akan tetapi, himpunlah dengan utuh di antara keduanya." Dengan demikian, ilmu—sebagaimana dapat diresapi hikmahnya dari berbagai riwayat—adalah komitmen nyata manusia terhadap apa yang ia ketahui dengan sebaik-baiknya. Rasulullah ﷺ bersabda:«مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ وَرَّثَهُ اللَّهُ عِلْمَ مَا لَا يَعْلَمُ»
"Barangsiapa yang mengamalkan apa yang telah ia ketahui, niscaya Allah akan mewariskan kepadanya ilmu tentang apa yang belum ia ketahui."
- Adapun tingkatan terakhir dari pilar-pilar tingkatan ilmu adalah kewajiban menyebarkan ilmu dan mengajarkannya kepada orang lain. Rasulullah ﷺ bersabda:
«مَا أَخَذَ اللَّهُ الْمِيثَاقَ عَلَى الْخَلْقِ أَنْ يَتَعَلَّمُوا حَتَّى أَخَذَ عَلَى الْعُلَمَاءِ أَنْ يُعَلِّمُوا»
"Tidaklah Allah mengambil perjanjian (Mitsaq) atas para makhluk agar mereka tekun belajar, melainkan setelah Dia mengambil perjanjian terlebih dahulu atas para ulama agar mereka senantiasa mengajar."
Beliau ﷺ juga bersabda:«إِنَّ اللَّهَ يَسْأَلُ الْعَبْدَ عَنْ فَضْلِ عِلْمِهِ كَمَا يَسْأَلُ عَنْ فَضْلِ مَالِهِ»
"Sesungguhnya Allah kelak akan menanyai seorang hamba tentang keutamaan (kelebihan) ilmunya, sebagaimana Dia akan menanyainya kelak tentang kelebihan hartanya."
Dari beliau ﷺ pula diriwayatkan:«يَجِيءُ الرَّجُلُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَهُ مِنَ الْحَسَنَاتِ كَالسَّحَابِ الرُّكَامِ أَوْ كَالْجِبَالِ الرَّوَاسِي، فَيَقُولُ: يَا رَبِّ أَنَّى لِي هَذَا وَلَمْ أَعْمَلْهَا؟ فَيَقُولُ: هَذَا عِلْمُكَ الَّذِي عَلَّمْتَهُ النَّاسَ يَعْمَلُ بِهِ مِنْ بَعْدِكَ»
"Seorang lelaki akan datang pada hari kiamat dengan membawa pundi-pundi kebaikan layaknya gumpalan awan tebal atau gunung-gunung yang kokoh tegak berdiri, lalu ia pun bertanya: 'Wahai Tuhanku, dari manakah semua ini kudapatkan padahal aku tak pernah merasa mengamalkannya?' Maka Allah menjawab: 'Ini adalah limpahan ilmumu yang engkau ajarkan kepada manusia, yang senantiasa mereka amalkan setelah kepergianmu'."
Di dalam hadis mulia ini sungguh terdapat penegasan yang lugas mengenai pahala pengajaran dan kemuliaannya.
Di sisi lain, Islam dengan keras melarang tindakan menyembunyikan ilmu serta menahan penyebarannya dari orang lain. Ibn 'Abd al-Barr (w. 364 H) telah meriwayatkan beserta sanadnya dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda:
«مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ عَلِمَهُ فَكَتَمَهُ جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ لِجَامٌ مِنْ نَارٍ»
"Barangsiapa yang ditanya mengenai suatu ilmu yang ia ketahui, lalu ia sengaja menyembunyikannya, maka ia akan datang pada hari kiamat dalam keadaan dikekang erat dengan kekang dari kobaran api neraka."
Amirul Mukminin 'Ali radhiyallahu ‘anhu berkata:
تعلم العلم فان تعلمه حسنة، ومدارسته تسبيح ، والبحث عنه جهاد، وتعليمه من لايعلمه صدقة
"Pelajarilah ilmu; karena sesungguhnya mempelajarinya merupakan wujud kebaikan, mendiskusikannya adalah tasbih, mencarinya adalah sebuah jihad, dan mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah jariah."
Referensi
- Ibn Manzhur, Muhammad bin Mukarram bin 'Ali, Abu al-Fadhl, Jamal al-Din. Lisan al-'Arab. (Beirut: Dar Shadir, 1414 H). Cetakan ke-3.
- Muhammad Ghanim Muhaisin. "Al-Hatsts 'ala al-'Ilm wa al-Ta'allum fi al-Sunnah al-Muthahharah". Majallah Larak li al-Falsafah wa al-Lisaniyyat wa al-'Ulum al-Ijtima'iyyah, Mujallad 8 ('Adad 1), 1437 H.